Aku Benci Hujan!

Uh! Hujan lagi! Aku benci hujan. Apalagi hujan deras seperti sore ini. Kalau sudah begini, rumahku pasti kebanjiran.

”Ermi....! Tolong bantuin Mamah angkat barang-barang ke atas lemari,” Mamah berteriak dari ruang tamu.

”Iya Mah,” sahutku dari dalam kamar. Padahal, kalau tidak hujan, sore ini aku bisa bermain boneka di rumah Nana. Aku benci hujan!

Aku bergegas pergi ke ruang tamu.

”Cepat ya Ermy. Air di jalan sudah tinggi. Sebentar lagi mungkin air akan masuk ke dalam rumah,” Mamah berujar dengan wajah cemas sambil terus mengangkat barang-barang.

Aku manaiki kursi, menaikan barang-barang operan Mamah ke atas lemari. Kalau saja Papah ada di rumah, mungkin pekerjaan mengangkat barang seperti ini akan berjalan lebih cepat.

”Ah...!” Mamah berteriak agak histeris. ”Airnya sudah masuk rumah!”


Aku menoleh. Oh, tidak! Air sudah menggenangi lantai setinggi mata kaki. Padahal, masih banyak barang-barang yang belum sempat diangkat.

”Boneka Ermy!” teriakku sedih, melihat boneka kura-kura yang tenggelam dalam genangan air. Kalau saja tadi siang usai bermain boneka itu aku rapihkan, mungkin ia tak akan tenggelam sekarang.

”Biar Mamah ambil,” ucap Mamah, melangkahkan kaki sambil mengangkat roknya agar tak basah. ”Biar nanti kita cuci ya Ermy,” ucap Mamah saat memberikan boneka kura-kura yang sudah basah kuyup itu ke tanganku.

Aku menggangguk sambil terisak.

Dari kaca jendela, di luar hujan terlihat semakin deras. Air yang menggenangi ruangan semakin tinggi. Dengan wajah cemas, Mamah terus menaik-naikan barang-barang penting ke tempat yang kemungkinan tak akan dicapai air.

Papah dimana sekarang? Ermy takut...

”Kita ke kamar kamu, Ermy.” Mamah mengulurkan tangan padaku, hendak menggendong.

”Biar Ermy turun sendiri, Mah.”

Aku menurunkan kaki.

“Aaaa... Airnya tinggi banget Mah!” teriakku, terkejut, saat menginjakan kaki ke lantai dan tersadar bahwa kini genangan air itu sudah sepinggang Mamah yang otomatis setinggi dada aku!

”Makanya tadi Mamah nawarin buat gendong,” jawab Mamah langsung memegangi tanganku.

Kalau ini kolam renang, tentu aku senang. Aku akan berenang-renang sepuasnya. Tapi, Uh! Hiyak! Air yang menggenangi tubuhku sekarang ini amat bau! Coklat dan kotor! Sampah-sampah yang entah datang dari mana terlihat ikut menggenangi pula. Dan, hmmm.. sepertinya aku kenal sebagian kecil dari sampah-sampah yang menggenang itu. Ah! Itu kan sampah plastik yang aku lihat di selokan depan rumah tadi pagi! Oh, tidak! Sampah-sampah dari selokan kan kotor sekali! Aku benci banjir! Aku benci hujan!

Mamah membuka pintu kamarku. Ah, tidak... Benda-benda kesayanganku sudah terendam air semua. Aku sedih.

Hujan deras itu tak mau berhenti. Tiga hari ini, rumahku terus digenangi air kotor yang menjijikan itu. Genangan air itu kini setinggi dada ayahku. Aku dan Mamah dibawa oleh Papah pergi ke rumah Nana yang rumahnya lebih tinggi agar tidak tenggelam. Orang-orang pun, kata Papah, banyak yang mengungsi. Hanya saja aku tak tahu kemana mereka pergi.

Tiga hari ini aku sakit. Mamah juga sakit. Aku kedinginan. Dan sepertinya orang-orang di rumah Nana juga kedinginan. Aku lapar. Tapi, kata Mamah, di rumah Nana sudah tidak ada makanan. Memang sih. Dua hari ini orang-orang di rumah Nana tak ada yang makan. Aku benci hujan! Kenapa Kau ciptakan hujan, Tuhan?

Tim penyelamat datang. Mereka membawa seisi rumah ke atas perahu karet secara bergiliran. Aku terkejut sekali saat melihat air coklat yang menjijikan itu nyaris menggenangi atap rumah. Kotaku memang biasa didatangi banjir. Papah bilang, banjir tahunan. Tapi, biasanya banjir tahunan itu hanya setinggi pinggang aku.

Turun dari atas perahu karet, Aku, Mamah dan Papah dibawa tim penyelamat ke sebuah tempat bertenda yang dihuni banyak orang. Entah berapa. Mungkin ratusan orang. Tempat itu memang tak dibanjiri air meski air hujan sesekali merembes masuk ke dalam melalui celah-celah. Tapi, aku benar-benar merasa tak nyaman. Aku masih sakit, kedinginan dan kelaparan.

Hore! Omah dan Opah datang. Siang, setelah tiga hari tinggal di bawah tenda, kami sekeluarga bisa tinggal di tempat yang lebih nyaman di rumah Opah di Jampang. Sebuah tempat di kabupaten Sukabumi yang masih asri dan dikelilingi pegunungan. Aku senang sekali dapat melihat gunung-gunung indah dan sungai-sungai jernih di persawahan saat tiba di rumah Opah. Tapi, bagaimana dengan keadaan teman-temanku disana ya? Apakah mereka masih kedinginan dan kelaparan?

Seminggu tinggal di rumah Opah, tiba-tiba turun hujan.

“Mamah...!” Teriaku saat mendengar tetesan hujan jatuh ke atas atap rumah Opah. “Aku takut!”

“Tenang Ermy,” ujarnya sambil memelukku. “Disini gak akan ada bajir.”

Meski Mamah bilang tenang, tetap saja aku takut.

”Ermy...!” teriak Yudi, sepupuku dari luar rumah. ”Main ujan-ujanan yuk!”

”Ujan-ujanan? Gak mau ah. Takut banjir.”

Yudi tertawa. ”Banjir gimana? Mau main gak?” Ia kemudian berlari ke tengah halaman, memain-mainkan daun pisang dengan anak-anak tetangga, membentuk barisan, seperti kereta api yang sedang berjalan.

”Kok mereka gak takut ada banjir sih Mah?” tanyaku, sedikit iri melihat mereka yang bersenang-senang dengan air hujan.

Mamah tersenyum. ”Kalau disini gak pernah ada banjir Ermy. Lihat deh keluar. Banyak pohon, kan?”

Aku mengagguk.

”Ermy tau kan, kalau tanah itu memiliki pori-pori atau lubang-lubang kecil, sehingga jika air jatuh ke atas tanah akan masuk ke bagian tanah yang lebih dalam?”

Aku menggangguk lagi.

”Nah, saat turun hujan, air yang masuk ke dalam tanah akan diserap oleh akar-akar pohon yang ada di dalam tanah. Makanya, sederas apapun hujan, air itu tidak akan menggenang. Di Jakarta kebanyakan jalanan terbuat dari beton. Karena jalan-jalan beton itu gak punya pori-pori untuk mempersilahkan air masuk ke bagian yang lebih dalam, air hujan yang turun akhirnya menggenang. Dan terjadilah banjir. Apalagi di Jakarta pohon-pohon yang ada itu sedikit sekali. Jadinya gak ada akar yang bisa menyerap air.”

”Kalau begitu, kenapa di Jakarta jalan-jalannya gak diganti dengan tanah aja Mah? Atau, beton-betonnya dibolongin kecil-kecil biar air hujan gak menggenang? Terus pohon-pohonnya dibanyakin?”

Mamah tertawa kecil. ”Itu akan jadi tugas kamu kalau kamu sudah besar nanti, Ermy,” ujarnya sambil tersenyum.

”Ya.. repot. Gak sah hujan aja sekalian,” ucapku masih teringat betapa tak sukanya aku pada hujan.

Mamah tertawa. “Loh? Kalau gak ada hujan, bagaimana kita bisa minum? Bagaimana pohon-pohon di luar bisa tumbuh? Bagaimana sungai-sungai di pegunungan bisa dialiri air? Dengar Ermy, Tuhan itu gak mungkin menciptakan sesuatu tanpa ada maksudnya. Semuanya memiliki fungsi tersendiri. Bahkan air hujan.”

Aku manggut-manggut. Begitukan? Hmm, mungkin aku harus berfikir ulang untuk tak membenci hujan. Dan, mmm... ada benarnya kata Mamah. Aku masih tak suka banjir. Jadi, suatu saat nanti aku akan mencegah tetesan air hujan itu menjadi banjir.

“Mau main Ermy?” Yudi berteriak dari halaman.

Aku tersenyum. “Mau!”

0 komentar:

Posting Komentar